Foto : RTL VI Rayon PMII Mahbub Djunaidi
1.
ARTI, FUNGSI, DAN KEDUDUKAN
Arti :
Secara esensial Nilai
Dasar Pergerakan ini adalah suatu sublimasi nilai ke-Islaman dan ke-Indonesiaan
dengan kerangka pemahaman keagamaan Ahlussunnah wal jama’ah yang menjiwai
berbagai aturan, memberi arah dan mendorong serta penggerak kegiatan-kegiatan
PMII. Sebagai pemberi keyakinan dan pembenar mutlak, Islam mendasari dan
menginspirasi Nilai Dasar Pergerakan ini meliputi cakupan aqidah, syari’ah dan
akhlak dalam upaya kita memperoleh kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat.
Dalam upaya memahami, menghayati dan mengamalkan Islam tersebut, PMII
menjadikan Ahlussunnah wal jama’ah sebagai pemahaman keagamaan yang paling
benar.
Fungsi
:
Landasan berpijak: Bahwa NDP menjadi
landasan setiap gerak langkah dan kebijakan yang harus dilakukan.
Landasan berpikir
: Bahwa NDP menjadi landasan pendapat yang dikemukakan
terhadappersoalan-persoalan yang dihadapi.
Sumber motivasi
: Bahwa NDP menjadi pendorong kepada anggota untuk berbuat dan bergerak
sesuai dengan nilai yang terkandung di dalamnya.
Kedudukan
:
Rumusan nilai-nilai
yang seharusnya dimuat dan menjadi aspek ideal dalam berbagai aturan dan kegiatan
PMII.
Landasan dan dasar
pembenar dalam berpikir, bersikap, dan berprilaku.
2. RUMUSAN NILAI DASAR PERGERAKAN
a.TAUHID
Meng-Esakan Allah SWT, merupakan nilai paling asasi yang dalam sejarah agama samawi telah terkandung sejak awal keberadaan manusia.
Meng-Esakan Allah SWT, merupakan nilai paling asasi yang dalam sejarah agama samawi telah terkandung sejak awal keberadaan manusia.
Allah adalah Esa
dalam segala totalitas, dzat, sifat-sifat, dan perbutan-perbuatan-Nya. Allah
adalah dzat yang fungsional. Allah menciptakan, memberi petunjuk, memerintah,
dan memelihara alam semesta ini. Allah juga menanamkan pengetahuan, membimbing dan
menolong manusia. Allah Maha Mengetahui, Maha Menolong, Maha Bijaksana, Hakim,
Maha Adil, dan Maha Tunggal. Allah Maha Mendahului dan Maha Menerima segala
bentuk pujaan dan penghambaan.
b.HUBUNGAN
MANUSIA DENGAN ALLAH
Allah adalah Pencipta
segala sesuatu. Dia menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baik kejadian dan
menganugerahkan kedudukan terhormat kepada manusia di hadapan ciptaan-Nya yang
lain.
Kedudukan seperti itu
ditandai dengan pemberian daya fikir, kemampuan berkreasi dan kesadaran moral.
Potensi itulah yang memungkinkan manusia memerankan fungsi sebagai khalifah dan
hamba Allah. Dalam kehidupan sebagai khalifah, manusia memberanikan diri untuk
mengemban amanat berat yang oleh Allah ditawarkan kepada makhluk-Nya. Sebagai
hamba Allah, manusia harus melaksanakan ketentuan-ketentauan-Nya. Untuk itu,
manusia dilengkapi dengan kesadaran moral yang selalu harus dirawat, jika
manusia tidak ingin terjatuh ke dalam kedudukan yang rendah.
Dengan demikian,
dalam kehidupan manusia sebagai ciptaan Allah, terdapat dua pola hubungan
manusia dengan Allah, yaitu pola yang didasarkan pada kedudukan manusia sebagai
khalifah Allah dan sebagai hamba Allah. Kedua pola ini dijalani secara
seimbang, lurus dan teguh, dengan tidak menjalani yang satu sambil mengabaikan
yang lain. Sebab memilih salah satu pola saja akan membawa manusia kepada
kedudukan dan fungsi kemanusiaan yang tidak sempurna. Sebagai akibatnya manusia
tidak akan dapat mengejawentahkan prinsip tauhid secara maksimal.
c.
HUBUNGAN MANUSIA DENGAN MANUSIA
Kenyataan bahwa Allah
meniupkan ruhNya kepada materi dasar manusia menunjukan , bahwa manusia
berkedudukaan mulia diantara ciptaan-ciptaan Allah.
Memahami ketinggian
eksistensi dan potensi yang dimiliki manusia, anak manusia mempunyai kedudukan
yang sama antara yang satu dengan yang lainnya. Sebagai warga dunia manusia
adalah satu dan sebagai warga negara manusia adalah sebangsa , sebagai mukmin
manusia adalah bersaudara.
Tidak ada kelebihan
antara yang satu dengan yang lainnya , kecuali karena ketakwaannya. Setiap
manusia memiliki kekurangan dan kelebihan, ada yang menonjol pada diri
seseorang tentang potensi kebaikannya , tetapi ada pula yang terlalu menonjol
potensi kelemahannya, agar antara satu dengan yang lainnya saling mengenal,
selalu memadu kelebihan masing-masing untuk saling kait mengkait atau
setidaknya manusia harus berlomba dalam mencaridanmencapai kebaikan, oleh
karena itu manusia dituntut untuk saling menghormati, bekerjasama, totlong
menolong, menasehati, dan saling mengajak kepada kebenaran demi kebaikan
bersama.
d.
HUBUNGAN MANUSIA DENGAN ALAM
Alam semesta adalah
ciptaan Allah SWT.Dia menentukan ukuran dan hukum-hukumnya. Alam juga
menunjukan tanda-tanda keberadaan, sifat dan perbuatan Allah. Berarti juga
nilai taiuhid melingkupi nilai hubungan manusia dengan alam .
Sebagai ciptaan
Allah, alam berkedudukan sederajat dengan manusia. Namun Allah menundukan alam
bagi manusia, dan bukan sebaliknya . Jika sebaliknya yang terjadi, maka manusia
akan terjebak dalam penghambaan terhadap alam , bukan penghambaan terhadap
Allah. Karena itu sesungguhnya berkedudukan sebagai khalifah di bumi untuk
menjadikan bumi maupun alam sebagai obyek dan wahana dalam bertauhid dan
menegaskan dirinya.
Perlakuan manusia
terhadap alam tersebut dimaksudkan untuk memakmurkan kehidupan di dunia dan
diarahkan kepada kebaikan di akhirat, di sini berlaku upaya berkelanjutan untuk
mentransendensikan segala aspek kehidupan manusia. Sebab akhirat adalah masa
masa depan eskatologis yang tak terelakan. Kehidupan akhirat akan dicapai
dengan sukses kalau kehidupan manusia benar-benar fungsional dan beramal
shaleh.
Kearah semua itulah
hubungan manusia dengan alam ditujukan . Dengan sendirinya cara-cara
memanfaatkan alam, memakmurkan
bumi dan menyelenggarakan kehidupan pada umumnya juga harus bersesuaian dengan
tujuan yang terdapat dalam hubungan antara manusia dengan alam tersebut.
Cara-cara tersebut dilakukan untuk mencukupi kebutuhan dasar dalam kehidupan
bersama. Melalui pandangan ini haruslah dijamin kebutuhan manusia terhadap pekerjaan
,nafkah dan masa depan. Maka jelaslah hubungan manusia dengan alam merupakan
hubungan pemanfaatan alam untuk kemakmuran bersama. Hidup bersama antar manusia
berarti hidup dalam kerja sama , tolong menolong dan tenggang rasa Nilai Dasar
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia yang dipergunakan sebagai landasan
teologis normatif, etis dan motivatif dalam pola pikir, pola sikap dan pola
perilaku warga PMII, baik secara perorangan maupun bersama-sama dan
kelembagaan. Rumusan tersebut harus selalu dikaji dan dipahami secara mendalam,
dihayati secara utuh dan terpadu, dipegang secara teguh dan dilaksanakan secara
bijaksana.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar