Selasa, 09 Januari 2018

Mahasiswa dan tanggung jawab sosial

foto : (RTL I Rayon PMII Mahbub Djunaidi Unigoro) 
Wacana tentang gerakan mahasiswa selalu menarik di berbagai negara. Sejarah Gerakan Mahasiswa di Indonesia juga tidak banyak berbeda dengan sejarah Gerakan Mahasiswa pada umumnya di belahan dunia manapun. Geliatnya linear dengan timbulnya rasa ketidakadilan, ketimpangan sosial, dan penindasan terhadap rakyat oleh kekuasaan. Upaya depolitisasi yang dilakukan oleh penguasa, serta hegemoni kelompok kepentingan dalam konstelasi politik nasional, senantiasa menjadi agenda penting dalam setiap gerakan mahasiswa di berbagai negara di belahan dunia. Sepak terjang kelompok muda intelektual ini telah menghasilkan berbagai resume seminar mengenai hal itu, demikian pula tak terhitung banyaknya buku dan tulisan yang telah dipublikasikan, namun sebagaimana diungkapkan pada kalimat pertama tulisan ini, fenomena ini selalu menarik untuk diperbincangkan. Terutama sisi dinamika dan pergeseran pola gerakan, yang di dalamnya termuat pola kepemimpinan, karena secara teoritik pergeseran itu akan berimbas signifikan terhadap pola kepemimpinan dan dinamika masyarakat dalam skala yang lebih luas.
            Di sisi lain, gerakan mahasiswa juga merupakan anak kandung dari perubahan yang terjadi pada budaya masyarakat. Sehingga ide, semangat, pola, dan implikasi gerakan di setiap masa, tidak lepas dari kecenderungan budaya yang berkembang di masyarakat. Dalam konteks itulah, boleh jadi munculnya distorsi dalam perilaku "tokoh-tokoh" gerakan mahasiswa belakangan ini, merupakan miniatur dari dominannya budaya "pragmatik dan fragmentaris" warisan orde baru dalam budaya masyarakat kita. Sebelum distorsi ini meluas, dan gerakan mahasiswa terperoksok dalam "kecelakanaan sejarah" yang kian parah, ada baiknya saat ini, semua elemen yang merasa bertanggung jawab kepada tegaknya semangat "kepeloporan dan kebenaran" pada kelompok muda ini ikut memikirkan, dan memberi kontribusi untuk menemukan kembali format gerakan dan pola kepemimpinan mahasiswa. Sehingga esensi dan eksistensi perjuangannya tetap terjaga dari maksud pihak kepentingan yang akan menunggangi idealisme dan kejujuran gerakan mahasiswa. Tulisan ini dibuat, adalah refeleksi dari kegundahan setelah melihat fenomena ini, kian hari kian kentara. Dan dengan keyakinan penuh, bahwa masih banyak aktivis-aktivis mahasiswa yang masih mengedepankan hati nurani, kejujuran, dan idealisme; maka tulisan ini dibuat.
            Gerakan Mahasiswa yang didominasi oleh para pemuda yang memiliki watak orang muda yaitu menginginkan perubahan. Dan lahirnya Gerakan Mahasiswa itu tidak dengan perencanaan sebelumnya yang matang, melainkan banyak dikarenakan adanya momentum politik di Indonesia. Pembuktian sejarah gerakan mahasiswa Indonesia sesuai dengan konteks zamannya, haruslah memberikan kesimpulan apakah gerakan tersebut, dalam orientasi dan tindakan politiknya, benar-benar mengarah dan bersandar pada problem-problem dan kebutuhan struk¬tural rakyat Indonesia. Orientasi dan tindakan politik merupakan cermin dari bagaimana mahasiswa Indonesia memahami masyarakatnya, menentukan pemihakan pada rakyatnya serta kecakapan merealisasi nilai-nilai tujuan atau ideologinya.
Nilai lebih organisasi dalam gerakan mahasiswa hanyalah bermakna bahwa di dalam organisasi, mahasiswa ditempa dan dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
(1) Pemahaman terhadap masyarakat dan persoalan-persoalannya;
(2) Pemihakan pada rakyat; dan
(3) Kecakapan-kecakapan dalam mengolah massa.
Ketiga syarat tersebut mencerminkan:
(1) Tujuan dan orientasi gerakan mahasiswa;
(2) Metodologi gerakan mahasiswa;
(3) Strukturalisasi sumber daya manusia, logistik dan keuangan gerakan mahasiswa; dan
(4) Program-program gerakan mahasiswa yang bermakna strategis-taktis.
sejarahnya, gerakan mahasiswa Indonesia dapat dikelompokkan ke dalam tiga (3) era, yakni: 
(1) Era Student Government (Era Pra Kemerdekaan dan Orde Lama);
(2) Era Depolitisasi Kampus (Orde Baru); dan
(3) Era Reformasi.
Pada ketiga era ini meniscayakan munculnya profil pemimpin di kalangan mahasiswa.
Realitas politik memang mengatakan independensi perguruan tinggi yang notabene adalah basis pendidikan nasional, sehingga banyak harapan akan adanya pemikiran-pemikiran baru tentang ke-Indonesiaan yang dihasilkan dari institusi ini. Selain civitas akademika yang merepresentasikan kelompok intelektual, mahasiswa juga diharapkan mampu memberikan gagasan dan ide-ide ke-Indonesiaan, dengan beragam aktualisasi.

Mahasiwa hendaknya mengkaji secara seksama perubahan-perubahan yang telah, sedang dan akan terjadi. Bukan hanya dengan slogan tetapi benar-benar dengan data dan ukuran yang jelas, kalau perlu dengan angka-angka. Dengan demikian gerakan mahasiswa tidak berhenti dan mengulang-ulang. Peran dan gerakan mahasiswa harus pula tidak hanya diartikan dalam skala demonstrasi dan keterlibatan massal lainnya, melainkan juga produk-produk intelektual yang harus ditindaklanjuti dengan usaha perubahannya. Bedanya dengan para senior yang sudah mapan, seperti dosen dan para profesional, adalah bahwa produk intelektual mahasiswa itu harus didesakkan dan diperjuangkan sehingga menjadi produk kebijakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar