foto : (RTL I Rayon PMII Mahbub Djunaidi Unigoro)
Wacana
tentang gerakan mahasiswa selalu menarik di berbagai negara. Sejarah Gerakan
Mahasiswa di Indonesia juga tidak banyak berbeda dengan sejarah Gerakan
Mahasiswa pada umumnya di belahan dunia manapun. Geliatnya linear dengan
timbulnya rasa ketidakadilan, ketimpangan sosial, dan penindasan terhadap
rakyat oleh kekuasaan. Upaya depolitisasi yang dilakukan oleh penguasa, serta
hegemoni kelompok kepentingan dalam konstelasi politik nasional, senantiasa menjadi
agenda penting dalam setiap gerakan mahasiswa di berbagai negara di belahan
dunia. Sepak terjang kelompok muda intelektual ini telah menghasilkan berbagai
resume seminar mengenai hal itu, demikian pula tak terhitung banyaknya buku dan
tulisan yang telah dipublikasikan, namun sebagaimana diungkapkan pada kalimat
pertama tulisan ini, fenomena ini selalu menarik untuk diperbincangkan.
Terutama sisi dinamika dan pergeseran pola gerakan, yang di dalamnya termuat
pola kepemimpinan, karena secara teoritik pergeseran itu akan berimbas
signifikan terhadap pola kepemimpinan dan dinamika masyarakat dalam skala yang
lebih luas.
Di
sisi lain, gerakan mahasiswa juga merupakan anak kandung dari perubahan yang
terjadi pada budaya masyarakat. Sehingga ide, semangat, pola, dan implikasi
gerakan di setiap masa, tidak lepas dari kecenderungan budaya yang berkembang
di masyarakat. Dalam konteks itulah, boleh jadi munculnya distorsi dalam
perilaku "tokoh-tokoh" gerakan mahasiswa belakangan ini, merupakan
miniatur dari dominannya budaya "pragmatik dan fragmentaris" warisan
orde baru dalam budaya masyarakat kita. Sebelum distorsi ini meluas, dan
gerakan mahasiswa terperoksok dalam "kecelakanaan sejarah" yang kian
parah, ada baiknya saat ini, semua elemen yang merasa bertanggung jawab kepada
tegaknya semangat "kepeloporan dan kebenaran" pada kelompok muda ini
ikut memikirkan, dan memberi kontribusi untuk menemukan kembali format gerakan
dan pola kepemimpinan mahasiswa. Sehingga esensi dan eksistensi perjuangannya
tetap terjaga dari maksud pihak kepentingan yang akan menunggangi idealisme dan
kejujuran gerakan mahasiswa. Tulisan ini dibuat, adalah refeleksi dari
kegundahan setelah melihat fenomena ini, kian hari kian kentara. Dan dengan
keyakinan penuh, bahwa masih banyak aktivis-aktivis mahasiswa yang masih
mengedepankan hati nurani, kejujuran, dan idealisme; maka tulisan ini dibuat.
Gerakan
Mahasiswa yang didominasi oleh para pemuda yang memiliki watak orang muda yaitu
menginginkan perubahan. Dan lahirnya Gerakan Mahasiswa itu tidak dengan
perencanaan sebelumnya yang matang, melainkan banyak dikarenakan adanya
momentum politik di Indonesia. Pembuktian sejarah gerakan mahasiswa Indonesia
sesuai dengan konteks zamannya, haruslah memberikan kesimpulan apakah gerakan
tersebut, dalam orientasi dan tindakan politiknya, benar-benar mengarah dan
bersandar pada problem-problem dan kebutuhan struk¬tural rakyat Indonesia.
Orientasi dan tindakan politik merupakan cermin dari bagaimana mahasiswa
Indonesia memahami masyarakatnya, menentukan pemihakan pada rakyatnya serta
kecakapan merealisasi nilai-nilai tujuan atau ideologinya.
Nilai lebih organisasi dalam gerakan mahasiswa
hanyalah bermakna bahwa di dalam organisasi, mahasiswa ditempa dan dipenuhi
syarat-syarat sebagai berikut:
(1) Pemahaman terhadap masyarakat dan
persoalan-persoalannya;
(2) Pemihakan pada rakyat; dan
(3) Kecakapan-kecakapan dalam mengolah massa.
Ketiga syarat tersebut mencerminkan:
(1) Tujuan dan orientasi gerakan mahasiswa;
(2) Metodologi gerakan mahasiswa;
(3) Strukturalisasi sumber daya manusia, logistik dan keuangan
gerakan mahasiswa; dan
(4) Program-program gerakan mahasiswa yang bermakna
strategis-taktis.
sejarahnya,
gerakan mahasiswa Indonesia dapat dikelompokkan ke dalam tiga (3) era, yakni:
(1) Era Student Government (Era Pra Kemerdekaan dan
Orde Lama);
(2) Era Depolitisasi Kampus (Orde Baru); dan
(3)
Era Reformasi.
Pada
ketiga era ini meniscayakan munculnya profil pemimpin di kalangan mahasiswa.
Realitas politik
memang mengatakan independensi perguruan tinggi yang notabene adalah
basis pendidikan nasional, sehingga banyak harapan akan adanya pemikiran-pemikiran
baru tentang ke-Indonesiaan yang dihasilkan dari institusi ini. Selain civitas akademika yang merepresentasikan kelompok intelektual, mahasiswa
juga diharapkan mampu memberikan gagasan dan ide-ide ke-Indonesiaan, dengan
beragam aktualisasi.
Mahasiwa
hendaknya mengkaji secara seksama perubahan-perubahan yang telah, sedang dan
akan terjadi. Bukan hanya dengan slogan tetapi benar-benar dengan data dan
ukuran yang jelas, kalau perlu dengan angka-angka. Dengan demikian gerakan
mahasiswa tidak berhenti dan mengulang-ulang. Peran dan gerakan mahasiswa harus
pula tidak hanya diartikan dalam skala demonstrasi dan keterlibatan massal lainnya,
melainkan juga produk-produk intelektual yang harus ditindaklanjuti dengan
usaha perubahannya. Bedanya dengan para senior yang sudah mapan, seperti dosen
dan para profesional, adalah bahwa produk intelektual mahasiswa itu harus didesakkan dan diperjuangkan
sehingga menjadi produk kebijakan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar