Sabtu, 29 Juli 2017

Mengenal Sosok Mahbub Djunaidi (sang pendekar pena)

Sosok Mahbub Djunaidi tidaklah asing bagi kalangan jurnalistik, kaum Nahdliyyin (sebutan warga pengikut Nahdlatul Ulama), dan para politikus. Mahbub Djunaidi,  seorang  tokoh  yang  lahir di Jakarta  pada  tanggal  27 juli 1933 atau 3 Robiul Akhir 1352 H ini merupakan tokoh yang aktif dalam dunia tulis-menulis, berorganisasi dan politik.
Anak pasangan dari H. Djunaidi dan Ibu Muchsinati. Ayahnya merupakan tokoh Nahdlatul Ulama (NU) yang pernah menjadi anggota DPR hasil pemilu tahun 1955.  Ayahnya sebagai Kepala Biro Peradilan Agama pada Kementerian Agama yang setiap awal ramadhan dan malam idul fitri mengumumkan hasil rukyah melalui radio.
Garis keturunan Mahbub Djunaidi dari pihak ibu adalah Intern Louis atau Muhammad Alwi yang menikah dengan gadis lokal Indonesia (Nenek Mahbub). Sedangkan nama kakek dari pihak ayah adalah  Abdul Aziz  bin  Sainan  dan neneknya bernama Siti Hasanah.
Mahbub Djunaidi yang lahir pada saat indonesia masih dalam masa penjajahan harus ikut merasakan kesengsaraan akibat kebijakan-kebijakan Belanda. Akibatnya, Mahbub harus ikut beberapa kali pindah dari Jakarta ke Solo  karena adanya pertempuran fisik antara Belanda dan para  pejuang  Indonesia. Mahbub menghabiskan  masa  kecilnya di kampung Kauman Solo, beliau  bergaul  dengan anak-anak kampung dan bahkan sering bermain bola dengan raja Solo.
Dalam  urusan  menulis,  beliau  pernah  berstatment  bahwa  “saya  akan  terus menulis dan terus menulis hingga saya tak mampu lagi menulis”. Dari ungkapan Mahbub tersebut menunjukkan sikap yang sangat tegas dalam urusan tulis menulis. Dengan tulisan beliau yang mempunyai gaya khas yang tidak dimiliki oleh penulis lain  itulah  beliau  mendapat  julukan  “Sang  Pendekar  Pena”,  sebutan  itu  tidaklah berlebihan di anugerahkan kepada Mahbub Djunaidi dengan kepiawaiannya dalam urusan tulis-menulis.
Dalam  dunia  organisasi  mula-mula  Mahbub Djunaidi menjadi ketua Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI) pada tahun 1952 sewaktu beliau masih dibangku SMP. Selama Sekolah Menengah Atas, Mahbub sudah bergabung ke  dalam Ikatan  Pelajar  Nahdlatul  Ulama  (IPNU), organisasi kader partai NU. IPNU yang lahir pada tanggal 24 Februari 1954 M/ 20 Jumadil Akhir 1373 ini merupakan wadah bagi pelajar NU yang masih muda dan masih duduk di bangku sekolah.  IPNU  berkembang  cukup  pesat  karena  berada  dilingkungan  sekolahsekolah  NU.  Keberadaan  IPNU  memiliki  posisi  yang  sangat  penting  sebagai wahana  kaderisasi  pelajar  NU  sekaligus  alat  perjuangan  dalam  menempatkan pemuda sebagai sumberdaya insani yang sangat vital.
Memasuki  jenjang  yang  lebih  tinggi,  Mahbub  memilih  menjadi  aktivis  di kalangan  mahasiswa  Universitas Indonesia  (UI).  Di  perguruan  tinggi  tersebut Mahbub  mengikuti  organisasi  Himpunan  Mahasiswa  Islam  (HMI).  HMI  adalah organisasi  satu-satunya  yang  menjadi  wadah  mahasiswa  islam  pada  waktu  itu. Bahkan,  Mahbub  juga  masuk  dalam  pengurus  pusat  HMI.  Beliau  juga yang meminta  kepada  Ir.  Soekarno  untuk  tidak  membubarkan  HMI  karena  diangap sebagai  underbow  partai  Masyumi  yang  dianggap  anti  revolusi  dan  bersikap reaksioner.
Mahbub Djunaidi yang telah keluar dari HMI dan ikut membidani berdirinya PMII  pada tahun 1960 hasil dari musyawarah  mahasiswa NU se-Indonesia dan merupakan ketua umum PMII periode pertama. Musyawarah mahasiswa NU itu juga menetapkan 3 orang formatur yang ditugasi menyusun kepengurusan. Mereka adalah H.Mahbub Djunaidi sebagai ketua umum, A.Cholid Mawardi Sebagai ketua satu  dan  M.  Said  Budairy  sebagai  sekretaris  umum dan  menetapkan  Peraturan Dasar  PMII  yang  berlaku  mulai  tanggal  17  April  1960. Tanggal  ini  dinyatakan sebagai tanggal PMIIlahir
Dibawah  kepemimpinan  Mahbub  PMII  yang  baru  lahir  terus  mengalami perkembangan. Hal ini terbukti pada saat kongres pertama PMII tahun 1961 yang menetapkan  ketiga  formatur  kepengurusan  tersebut  yang  dihadiri  13  cabang mengalami perkembangan pada kongres ke II PMII yang dilksanakan di yogyakarta yang dihadiri 31 cabang dan 18 cabang baru, sekaligus memilih Mahbub Djunaidi sebagai  ketua umum  PMII  (PB  PMII)  kembali  pada  periode  1963-1966.  Berarti Mahbub dipercaya untuk memimpin PMII selama dua  periode yakni  periode pertama 1960-1963 dan periode kedua 1963-1966.
Selama  kepemimpinannya  di  PMII  beliau banyak  memberikan  kontribusi yang sangat besar bagi pergerakan yang baru lahir  tersebut.  Semangat  dan perjuangan  yang ditanamkan oleh Mahbub kepada kader-kader mahasiswa terus melekat sampai saat ini. salah satu kontribusinya sang masih terus dikumandangkan ketika organisasi pergerakan melakukan kegiatan ataupun aksi adalah mars PMII. Salah satu cara membentuk jiwa dan menempa semangat kader adalah melalui lagulagu, Khususnya lagu mars organisasi. Dia sendiri yang menyusun lirik lagu Mars PMII, lagu yang selalu dinyanyikan pada setiap kesempatan dan pada saat akan memulai acara penting PMII.


Isi Mars tersebut adalah:
Inilah kami wahai Indonesia
Satu barisan dan satu cita
Pembela bangsa penegak agama
Tangan terkepal dan maju kemuka
Habislah sudah masa yang suram
Selesai sudah derita yang lama
Bangsa yang jaya Islam yang benar
Bangun tersentak dari bumiku subur
Denganmu PMII pergerakanku
Ilmu dan bakti ku berikan
Adil dan makmur kuperjuangkan
Untukmu satu tanah airku
Untukmu satu keyakinanku

Setelah pergantian pengurus pusat PMII pada kongres ke III, Mahbub sudah tidak  menjabat  sebagai  ketua umum dan digantikan dengan  sahabatnya  M. Zamroni.  Mahbub diminta untuk membantu ikut  berjuang  dan mengembangkan Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor). Dari sifat keseriusan dalam segala  hal  yang  ditangani  akhirnya  beliau  sempat  menduduki  puncak kepemimpinan  di  GP  Ansor  sebagai  organisasi  kader  NU  dikalangan  pemuda. Beliau jugalah yang menciptakan Mars GP Ansor yang selalu dinyanyikan sebagai pengobar semangat kaum pemuda NU. Mars GP Ansor yang diciptakan Mahbub Djunaidi adalah sebagai berikut:
Darah dan nyawa telah kuberikan
Syuhada rebah Allahu Akbar
Kini bebas rantai ikatan
Negara jaya Islam yang benar
Berkibar tinggi panji gerakan
Iman di dada patriot perkasa
Ansor maju satu barisan
S’ribu rintangan patah semua
Tegakkan yang adil
Hancurkan yang zalim
Makmur semua
Lenyap yang nista
Allahu Akbar, Allahu Akbar
Pagar baja gerakan kita
Bangkitlah bangkit
Putera pertiwi
Tiada gentar dada kemuka
Bela negara agama negeri.

Setelah  Mahbub  aktif  di  organisasi  BANOM  (Badan  Otonom)  NU, diantaranya IPNU, PMII dan GP Ansor, Mahbub juga aktif di organisasi induk NU sebagai sekjen PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) dan wakil ketua PBNU ketika Abdurrahman Wahid sebagai ketua Tanfidziyahnya.
Hj.  Hasni  Asjmawi  Djunaidi,  sang  istri  yang  dinikahi  pada  tanggal  24 September  1960.  Hasni  Asjmawi  adalah  seorang  putri  dari  seorang  anggota konstituante  bernama  KH.  Asjmawi,  berasal  dari  Bukittinggi  yang  menetap dibandung.  Pernikahan  tersebut  berlangsung  setelah  Mahbub  dan  kawan-kawan berhasil   mendirikan  organisasi  PMII  (Pergerakan  Mahasiswa  Islam  Indonesia) sebagai  wadah  aspirasi  genarasi  muda  NU  ditingkat  mahasiswa.  Dari pernikahannya Mahbub dengan Hj. Hasni Asmawi dikaruniai tujuh orang anak, tiga putri dan empat putra  yakni Fairuz Djunaidi, Tamara Hanum Djunaidi, Mirasari Djunaidi,  Rizal  djunaidi,  Isfandiari  Mahbub  Djunaidi,  Yuri  Djunaidi  dan  Verdi Haikal Djunaidi.
Dalam  urusan  jurnalistik,  Mahbub  mengawali  karirnya  pada  tahun  1958 dengan  ikut  membantu  Harian  Duta  Masyarakat.  Tidak  lama  kemudian  karena kepiawaiannya dalam urusan tulis-menulis beliau diangkat menjadi direktur Harian Duta  Masyarakat  pada  tahun  1960-1970.  Mahbub  yang  semakin  hari  semakin mempunyai pengaruh besar terhadap dunia jurnalistik dan kewartawanan akhirnya, pada kongres XI bulan Agustus 1963 di Jakarta, terpilih sebagai ketua umum PWI pusat  A.  Karim  DP  dan  Mahbub  sebagai  salah  seorang  ketua,  Sekjennya  Satya Graha. Tahun  1965-1970  menjadi  ketua  umum  PWI  (Persatuan  Wartawan Indonesia)  pusat  dengan  jacob  oetama  sebagai  sekretarisnya,  kemudian  menjadi dewan kehormatan PWI, sampai tahun 1978. Sejak tahun 1970 menjadi kolumnis di Harian Kompas dan Majalah Tempo.
Masa tuanya Mahbub bukan halangan untuk terus aktif dalam dunia politik. Sampai Mahbub ditahan karena dianggap provokator dikalangan mahasiswa untuk menentang  pemerintahan.  Penahanan  yang  tidak  jelas  apa  kesalahannya  karena tidak  pernah  diproses  melalui  pengadilan,  sejak  penahanan  itulah  Mahbub  tidak pernah sehat sepenuhnya.

Pada tanggal 1 Oktober 1995 Pukul 03.00, Mahbub Djunaidi meninggalkan dunia pada usia 63 tahun. Mahbub Djunaidi Meninggalkan Istri, ibu Hasni dan tujuh orang anak. Kemudian pada tanggal 18 september 2012, sang istri tercinta ibu Hasni menghembuskan nafas terakhirnya di usia ke 71 tahun. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar